Pemulihan Pendidikan NTT Bergerak Positif, 187 Bantuan Revitalisasi dan 672 RKS Mulai Berjalan
RuangVeritas.com – Pemulihan layanan pendidikan setelah gempa bumi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mengalami kemajuan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mempercepat proses pemulihan dengan mulai menyalurkan bantuan revitalisasi tahap pertama bagi satuan pendidikan yang terdampak kerusakan akibat bencana. Selain itu, pemerintah juga mempercepat pembangunan Ruang Kelas Sementara (RKS) untuk mendukung keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.
Pada tahap awal, bantuan revitalisasi diberikan secara bertahap kepada 187 satuan pendidikan dengan total anggaran mencapai Rp50 miliar. Bantuan tersebut mencakup 140 satuan PAUD dengan alokasi Rp500 juta, lima SLB senilai Rp6,45 miliar, dua PKBM dan satu SKB dengan total Rp1 miliar, serta 39 SMK dengan anggaran Rp42,2 miliar.
Sementara itu, untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, proses verifikasi dan validasi kondisi satuan pendidikan telah dilakukan. Saat ini, kebutuhan anggaran untuk penanganan pada ketiga jenjang tersebut masih dalam tahap penghitungan.
Selain program revitalisasi, Kemendikdasmen menyalurkan bantuan pembangunan RKS untuk mempercepat pemulihan proses pembelajaran. Sebanyak 672 unit RKS mendapatkan dukungan dengan total anggaran Rp3,5 miliar. Bantuan tersebut terdiri atas 194 RKS PAUD, 12 RKS SLB, dan 372 RKS SMK dengan bantuan Rp4 juta untuk setiap RKS. Sementara itu, 65 RKS SMP dan 29 RKS SMA memperoleh bantuan masing-masing Rp15 juta per RKS.
Data Kemendikdasmen juga menunjukkan bahwa sebanyak 2.447 satuan pendidikan di wilayah terdampak telah kembali melaksanakan kegiatan pembelajaran. Sebanyak 487 satuan pendidikan sudah dapat menjalankan pembelajaran secara normal di ruang kelas, sedangkan 1.960 lainnya masih menggunakan berbagai bentuk pembelajaran darurat, seperti di tenda, ruang terbuka, maupun ruang kelas sementara.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa perkembangan tersebut merupakan hasil kerja sama dan gotong royong berbagai pihak dalam membantu memulihkan layanan pendidikan di NTT. Kemendikdasmen, kata dia, akan terus memberikan dukungan agar kegiatan belajar dapat kembali berjalan secara optimal sehingga murid tetap memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan mewujudkan cita-citanya.
Pendampingan Psikososial dan Penyediaan Ruang Kelas Darurat
Upaya pemulihan tidak hanya dilakukan melalui revitalisasi dan penyediaan RKS. Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Saryadi, mengatakan Kemendikdasmen juga memberikan pendampingan psikososial kepada 75 sekolah melalui kerja sama dengan sejumlah mitra.
Tahap berikutnya, Kemendikdasmen akan memberikan pelatihan kepada 120 fasilitator nasional dan 1.700 fasilitator daerah. Para fasilitator tersebut nantinya akan membantu memberikan pendampingan kepada sekitar 51 ribu pendidik dan tenaga kependidikan yang berada di tujuh kabupaten terdampak bencana.
Menurut Saryadi, pendampingan psikososial tersebut diperlukan untuk membantu memulihkan kondisi mental sekaligus membangkitkan kembali semangat warga sekolah agar aktivitas pendidikan secara bertahap dapat kembali ke kondisi normal.
Untuk menjamin keberlanjutan layanan pendidikan dalam situasi darurat, Kemendikdasmen juga telah mendistribusikan bantuan tenda kelas darurat dengan nilai total Rp5,5 miliar. Seluruh bantuan tersebut telah disalurkan ke tujuh kabupaten terdampak, yakni Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Manggarai Barat, Sikka, Ngada, dan Ende.
Selain itu, Kemendikdasmen telah menyalurkan bantuan awal senilai Rp6 miliar kepada tujuh kabupaten terdampak. Bantuan tersebut berupa 10.000 paket makanan anak, 1.000 paket sembako, 5.500 school kit, 1.500 family kit, serta 10.000 buku bacaan.
Saryadi turut mengapresiasi pemerintah provinsi dan pemerintah daerah di NTT yang telah mengeluarkan surat edaran maupun keputusan mengenai penyelenggaraan pendidikan setelah bencana. Menurutnya, berbagai kebijakan tersebut sejalan dengan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran pada Satuan Pendidikan Terdampak Bencana.
Bagi keluarga warga sekolah yang anggota keluarganya meninggal dunia atau mengalami luka akibat gempa, Kemendikdasmen juga telah memberikan santunan dengan total Rp330 juta. Santunan tersebut diberikan sebesar Rp5 juta bagi peserta didik yang meninggal dunia, Rp10 juta bagi guru yang meninggal dunia, Rp2 juta bagi guru yang mengalami luka, serta Rp1 juta bagi peserta didik yang mengalami luka.
Saryadi mengajak pemerintah daerah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat semangat gotong royong dalam memastikan hak pendidikan anak-anak di NTT tetap terpenuhi. Menurutnya, kondisi darurat tidak boleh menjadi penghalang bagi murid untuk mendapatkan layanan pendidikan.





