Penguatan Ekosistem AI Jadi Fokus Kemdiktisaintek untuk Tingkatkan Mutu Layanan Publik BUMN
Jakarta, RuangVeritas.com – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong penguatan ekosistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai salah satu langkah strategis untuk meningkatkan kualitas layanan publik, khususnya di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Upaya tersebut diwujudkan melalui penguatan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor industri.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, dalam pertemuan koordinasi bersama Badan Pengelola (BP) BUMN yang berlangsung di kantor Kemdiktisaintek, Kamis (25/6). Pertemuan itu membahas berbagai peluang penerapan AI di sejumlah sektor layanan publik BUMN, mulai dari transportasi, kesehatan, logistik, hingga pelayanan pelanggan, sehingga pemanfaatan teknologi dapat memberikan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sebagai bagian dari penguatan kolaborasi tersebut, akademisi Tsinghua University, Rong Ke, turut hadir untuk berbagi pengalaman mengenai praktik pengembangan riset dan implementasi AI yang dibangun melalui kemitraan erat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri.
Menurut Wamen Stella, salah satu pelajaran penting yang dapat diambil dari perguruan tinggi luar negeri adalah kuatnya hubungan antara institusi akademik dengan pemerintah maupun industri, terutama dalam mendukung kegiatan penelitian.
“Berkaca dari kampus di luar negeri, kolaborasinya erat dengan pemerintahan dan industri, terutama dalam hal riset. Apabila pemerintah dan industri perlu riset, mereka akan memberikan pendanaan riset ke perguruan tinggi,” jelas Wamen Stella.
Sementara itu, Wakil Kepala BP BUMN, Tedi Bharata, menilai transformasi yang tengah berlangsung di lingkungan BUMN membuka ruang yang semakin luas bagi pemanfaatan AI di berbagai sektor strategis. Ia menekankan bahwa implementasi teknologi tersebut perlu dilakukan secara bertahap dengan memulai dari berbagai use case yang mampu memberikan dampak nyata, sekaligus memperkuat infrastruktur digital sebagai fondasi pengembangan jangka panjang.
“Pemanfaatan AI harus dibangun secara bertahap. Kita dapat memulai dari berbagai use case yang memberikan manfaat langsung, sembari terus memperkuat infrastruktur digital agar implementasinya semakin luas dan berkelanjutan. Kerja sama teknologi dengan negara lain harus dibarengi dengan mendorong teknologi kita sendiri,” ujar Tedi.
Dalam kesempatan tersebut, Wamen Stella juga menyoroti pengalaman Tsinghua University sebagai salah satu perguruan tinggi yang berhasil membangun budaya riset yang selaras dengan kebutuhan pemerintah dan industri. Model kolaborasi tersebut dinilai dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam memperkuat budaya penelitian sekaligus mempercepat lahirnya inovasi.
Senada dengan hal tersebut, Staf Ahli Menteri Bidang Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Hasan Chabibie, menegaskan komitmen Kemdiktisaintek untuk terus memperkuat tata kelola data, membangun infrastruktur digital, serta meningkatkan sinergi lintas sektor guna mendukung implementasi AI yang berkelanjutan.
Melalui semangat Diktisaintek Berdampak, Kemdiktisaintek terus memperluas kerja sama dengan berbagai mitra, baik di tingkat nasional maupun internasional, dalam membangun ekosistem AI yang inklusif, adaptif, dan memiliki daya saing. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, serta mitra global diharapkan mampu mempercepat lahirnya inovasi berbasis AI yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung transformasi ekonomi Indonesia.





