WSC Shanghai 2026 Jadi Tolok Ukur Kualitas Pendidikan Vokasi Indonesia
RuangVeritas.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melepas delegasi Indonesia yang akan berkompetisi dalam WorldSkills Competition (WSC) ke-48 di Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok. Pada ajang tersebut, Indonesia mengirimkan 20 kompetitor yang akan bertanding di 17 bidang keahlian. Selain itu, sebanyak 17 expert turut diberangkatkan untuk menjalankan tugas teknis sekaligus terlibat dalam proses penilaian kompetisi.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menuturkan bahwa partisipasi Indonesia dalam WSC tidak semata-mata ditujukan untuk mengejar prestasi. Keikutsertaan tersebut juga menjadi kesempatan bagi pendidikan vokasi Indonesia untuk mempelajari perkembangan keterampilan dan teknologi yang telah diterapkan di tingkat global.
Menurut Fajar, kompetisi yang berlangsung di Shanghai dapat menjadi tolok ukur untuk melihat kualitas pendidikan vokasi di Indonesia. “Ajang di Shanghai nanti akan menjadi semacam standardisasi dari kualitas pendidikan vokasi yang ada di Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Selasa (15/9).
Ia menambahkan, beragam bidang keahlian yang dipertandingkan dalam WSC dapat memberikan gambaran mengenai kompetensi yang berpotensi semakin dibutuhkan pada masa mendatang. Karena itu, pendidikan vokasi perlu terus beradaptasi dan mengembangkan kompetensi agar tetap sesuai dengan perubahan kebutuhan dunia kerja, termasuk menghadapi perkembangan kecerdasan artifisial (AI).
“Dari cabang-cabang yang dipertandingkan di Shanghai, saya rasa kita bisa meneropong bahwa prodi-prodi atau keahlian-keahlian yang akan relevan di masa depan itu apa dan saya rasa itu harus direspons oleh pendidikan vokasi di Indonesia,” kata Fajar.
Fajar juga menegaskan bahwa kemajuan teknologi AI tidak berarti pekerjaan yang membutuhkan keterampilan teknis akan kehilangan relevansinya. Sejumlah kompetensi seperti kelistrikan, plumbing, pembangunan, dan konstruksi yang turut dipertandingkan dalam WSC menunjukkan bahwa tenaga dengan keahlian teknis masih dibutuhkan dalam dunia kerja.
“Di tengah gempuran kecerdasan buatan, pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya teknis itu masih punya tempat. Saya lihat di antara cabang-cabang yang dipertandingkan juga itu ‘kan, soal listrik, plumbing, bangunan, konstruksi,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus), Tatang Muttaqin, mengungkapkan bahwa para anggota kontingen Indonesia telah menjalani persiapan dan pelatihan secara intensif dalam waktu yang panjang. Peserta berasal dari kalangan murid dan alumni SMK serta talenta dari sejumlah institusi mitra industri. Mereka mengikuti proses pembinaan selama enam bulan hingga hampir satu tahun.
“Mereka berangkat bukan sekadar membawa koper. Namun, mereka membawa nama Indonesia. Mereka juga tidak datang dengan tiba-tiba, ada latihan yang cukup panjang, dengan seleksi yang ketat, ada perjuangan, ada kesalahan yang berulang kali dilakukan sampai pada titik menjadi ahli,” kata Tatang.
Menurutnya, WSC merupakan kompetisi keterampilan terbesar di dunia yang tidak hanya menguji ketepatan peserta dalam bekerja. Para kompetitor juga dituntut mampu menunjukkan kecepatan, kreativitas, serta kemampuan memenuhi standar dan tolok ukur keterampilan yang berlaku secara global.
Tatang menyampaikan bahwa perolehan medali memang menjadi salah satu target kontingen Indonesia. Namun, pengalaman dan pengetahuan yang dibawa pulang dari kompetisi juga memiliki nilai penting bagi pengembangan pendidikan vokasi nasional.
“Tentu kita ingin medali, tapi jangan hanya pulang membawa medali. Pulanglah membawa pengalaman, pulanglah membawa teknologi, pulanglah membawa standar dunia,” tegasnya.
Ia berharap pengalaman selama berlaga di Shanghai tidak berhenti pada pencapaian para kompetitor, tetapi dapat diterapkan untuk memperkuat sistem pendidikan vokasi di Indonesia. Pengetahuan mengenai teknologi, standar keterampilan, dan pengalaman kompetisi di tingkat dunia diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan bagi murid SMK di berbagai daerah.
“Karena kemenangan terbesar bukan hanya ketika merah putih berkibar di podium. Kemenangan terbesar adalah ketika pengalaman dari Shanghai mengubah cara kita mendidik dan melatih jutaan murid SMK di tanah air,” pungkas Tatang.





