Teknologi

Indonesia Bidik Status Pusat Ekonomi Digital Asia melalui Pengembangan AI

Indonesia terus memperkuat langkah untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia dengan memanfaatkan perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI). Pemerintah menilai pertumbuhan investasi digital, pembangunan infrastruktur teknologi, serta penguatan regulasi menjadi faktor penting dalam mendorong target tersebut.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyampaikan bahwa Indonesia tengah mempersiapkan diri sebagai pemain utama AI di kawasan Asia. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan pusat data, percepatan investasi digital, hingga penyusunan kebijakan etika AI nasional.

Menurut Nezar, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus meningkat signifikan dalam beberapa tahun mendatang.

“Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan melampaui PDB US$100 miliar pada tahun 2026 dan berpotensi mencapai antara US$220 miliar dan US$360 miliar pada tahun 2030 sehingga memposisikan Indonesia sebagai ekonomi digital terbesar di Asia,” ujarnya dalam forum diskusi bertajuk Financial Markets at the Crossroads: The Impact of AI and Geopolitical Risk di Jakarta Selatan, Kamis (21/05/2026).

Ia menjelaskan, Kementerian Komunikasi dan Digital memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem AI nasional. Pemerintah, kata Nezar, tidak hanya berfungsi sebagai fasilitator, tetapi juga bertindak sebagai penggerak sekaligus pengawas perkembangan teknologi digital di Indonesia.

Dalam pengembangan AI nasional, pemerintah menyiapkan tiga fokus utama kebijakan. Pilar pertama berkaitan dengan regulasi yang bertujuan menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan masyarakat.

Pemerintah saat ini tengah merampungkan peta jalan AI nasional serta rancangan peraturan presiden mengenai etika AI. Regulasi tersebut dirancang untuk memastikan teknologi AI berjalan secara transparan, aman, dan tetap sesuai dengan nilai budaya Indonesia.

“Platform AI harus menjunjung tinggi transparansi, akuntabilitas, dan keamanan sambil tetap selaras dengan nilai-nilai budaya Indonesia,” kata Nezar.

Fokus kedua adalah pembangunan infrastruktur digital berstandar global. Pemerintah mendorong investasi besar-besaran di sektor pusat data dan layanan komputasi awan melalui kerja sama dengan berbagai perusahaan teknologi dunia.

Saat ini Indonesia memiliki sekitar 185 pusat data dengan kapasitas total mencapai 274 megawatt. Pemerintah menargetkan kapasitas tersebut meningkat hingga melampaui 2.000 megawatt pada tahun 2029.

Nezar juga menyebut sejumlah perusahaan teknologi global telah memperkuat komitmennya untuk berinvestasi di Indonesia.

“Microsoft telah berkomitmen sebesar US$1,7 miliar untuk membangun infrastruktur cloud di Indonesia, sementara Nvidia dan Amazon juga telah menegaskan kembali komitmen investasi mereka di negara kita,” ungkapnya.

Sementara itu, pilar ketiga berfokus pada pengembangan sumber daya manusia di bidang digital. Pemerintah menilai kebutuhan talenta digital menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi agar transformasi digital berjalan optimal.

Menurut Nezar, keberadaan infrastruktur modern tidak akan memberikan dampak maksimal tanpa didukung tenaga kerja yang memiliki kompetensi digital memadai.

“Infrastruktur kelas dunia tidak akan banyak nilainya tanpa sumber daya manusia yang mumpuni. Indonesia saat ini menghadapi kesenjangan talenta digital sekitar 3 juta orang,” tutupnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button