Mengenal Sarden Lebih Dekat
Setiap kali berbelanja ke supermarket, banyak dari kita mungkin langsung mengambil kornet, nugget, atau sosis untuk stok lauk praktis di rumah. Sementara itu, deretan sarden kalengan yang tersusun rapi di rak sering kali hanya dilewati begitu saja.
Padahal, sarden kalengan termasuk salah satu pilihan makanan paling praktis untuk memenuhi kebutuhan protein. Tidak perlu dimasak lama, mudah disajikan, bahkan bisa langsung dikonsumsi dari kalengnya saat sedang mager atau darurat lapar. Selain praktis, sarden kalengan juga memiliki daya simpan yang cukup lama, sehingga cocok dijadikan stok makanan di rumah.
Lalu, kenapa sarden sering dianggap lebih baik dibanding makanan praktis lainnya seperti kornet, nugget, atau sosis? Jawabannya ada pada kandungan gizinya.
Sarden dikenal kaya protein, omega-3, kalsium, serta berbagai vitamin dan mineral yang baik untuk tubuh. Selain itu, ikan sarden umumnya tidak memerlukan bahan pengawet tambahan karena proses pengalengan sudah cukup untuk membuatnya tahan lama. Menariknya lagi, sarden juga memiliki kadar merkuri yang lebih rendah dibanding ikan berukuran besar.
Komposisi sarden kalengan cenderung sederhana, biasanya hanya terdiri dari ikan sarden, saus tomat, air, dan sedikit garam. Tanpa pengawet buatan, tanpa pewarna tambahan, dan umumnya tidak menggunakan perisa sintetik berlebihan.
Berbeda dengan makanan praktis lainnya, sarden kalengan tidak termasuk dalam UPF (Ultra Processed Food). Apa sih yang dimaksud dengan UPF?
UPF adalah makanan yang sudah melalui proses industri berlapis, biasanya menggunakan bahan tambahan yang tidak lazim digunakan di dapur rumah tangga, seperti: isolat protein, high fructose corn syrup, pengemulsi sintetik, pewarna buatan, dan bahan pengawet.
Sarden kalengan dapat awet hingga bertahun-tahun karena melalui proses sterilisai pemanasan suhu tinggi di dalam kaleng yang kedap udara, yang disebut retort sterilization. Kaleng dipanaskan pada suhu sekitar 121 derajat celcius selama waktu tertentu. Pemanasan tersebut membunuh mikroba dan mencegah pertumbuhan bakteri, sehingga makanan menjadi steril dan lebih awet tanpa perlu banyak tambahan bahan pengawet.
Proses retort sterilization juga menjaga kandungan nutrisi dalam sarden. Protein tidak rusak, omega-3 tetap ada, bahkan karena dipanaskan dalam kondisi tertutup, beberapa nutrisi justru lebih stabil dibanding ikan segar yang terlalu lama dibiarkan di suhu ruang.
Proses pemanasan suhu tinggi juga membuat struktur kolagen dan kalsium fosfat pada tulang ikan menjadi lebih lunak. Akibatnya, tulang sarden menjadi rapuh, lembut, dan aman dimakan.
Menariknya, hal ini justru menjadi kelebihan sarden kalengan. Tulang sarden yang lunak merupakan sumber kalsium dan fosfor yang sangat baik. Dalam 100 gram sarden kalengan, terkandung sekitar 380 mg kalsium, jumlah yang hampir setara dengan segelas susu. Karena teksturnya sudah lunak, mineral dari tulang sarden juga lebih mudah diserap oleh tubuh.
Jangan heran kalau sarden kalengan sering dianggap sebagai “hidden gem” di rak supermaket. Selain praktis, tahan lama, tinggi protein, kaya omega-3 dan kalsium, harga per kalengnya juga cukup ramah di kantong. Terkadang, makanan sederhana yang sering kita anggap remeh dan terkesan tidak populer justru punya manfaat yang luar biasa.
Jadi, jangan sampai terlewat lagi, ya. Selain praktis dan bergizi, sarden juga bisa dioleh menjadi berbagai menu lezat, kamu bahkan bisa menemukan banyak resep baru dengan menggunakan sarden.
Penulis : Liana

