Pameran “Panorámica” Jadi Simbol Persahabatan 60 Tahun Indonesia–Uruguay
RuangVeritas.com – Hubungan diplomatik yang telah terjalin selama enam dekade antara Indonesia dan Uruguai dirayakan melalui pendekatan yang berbeda. Tak hanya lewat kerja sama antarnegara, peringatan 60 tahun hubungan bilateral kedua negara diwujudkan dalam ruang dialog budaya melalui penyelenggaraan Pameran Seni Rupa Uruguai bertajuk Panorámica di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
Pameran yang digagas Kedutaan Besar Republik Oriental Uruguai bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Museum dan Cagar Budaya ini menghadirkan beragam karya seni yang memperkenalkan lanskap, identitas, serta kehidupan masyarakat Uruguai kepada publik Indonesia.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, yang membuka pameran tersebut secara resmi, menyampaikan penghargaan atas inisiatif yang dinilai mampu memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara melalui jalur kebudayaan.
Menurutnya, diplomasi budaya memiliki peran penting dalam membangun kedekatan antarbangsa. Hubungan internasional tidak semata bertumpu pada aspek politik maupun ekonomi, tetapi juga tumbuh melalui pertukaran gagasan, nilai, dan ekspresi budaya.
Ia menilai Panorámica memberikan kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk mengenal lebih dekat wajah Uruguai melalui karya-karya seni yang merekam sejarah, identitas, dan dinamika sosial masyarakatnya. Berbagai karya yang dipamerkan juga memperlihatkan bagaimana seni mampu menjadi bahasa universal yang menjembatani perbedaan geografis maupun latar budaya.
Menbud menambahkan, pameran semacam ini memiliki arti penting dalam membangun pemahaman lintas budaya sekaligus memperkuat hubungan persahabatan yang telah lama terjalin antara Indonesia dan Uruguai.
Penyelenggaraan Panorámica berlangsung di tengah meningkatnya pengakuan dunia terhadap seni rupa Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, karya dan seniman Indonesia semakin aktif tampil dalam berbagai biennale, museum, dan pameran internasional. Kehadiran mereka tidak hanya membawa kekayaan budaya Nusantara ke panggung global, tetapi juga menawarkan perspektif terhadap isu-isu kontemporer seperti identitas, keberlanjutan lingkungan, teknologi, hingga perubahan sosial.
Sementara itu, Duta Besar Uruguai untuk Indonesia, Cristina González, mengatakan bahwa pameran ini menjadi sarana penting untuk memperkenalkan karakter budaya negaranya kepada masyarakat Indonesia.
Menurut Cristina, karya-karya yang ditampilkan mencerminkan semangat Uruguai sekaligus mengangkat nilai-nilai yang juga dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia, seperti hubungan manusia dengan alam, tradisi, dan pencarian identitas.
Pameran Panorámica menghadirkan karya dua seniman Uruguai, yakni Luis Fabini dan Manuel Rodríguez. Keduanya menawarkan cara pandang yang berbeda dalam melihat lanskap dan relasi manusia dengan lingkungan sekitarnya.
Melalui karya fotografi yang ditampilkannya, Luis Fabini mendokumentasikan kehidupan para gaucho, figur penggembala yang menjadi bagian penting dari tradisi dan budaya Uruguai. Potret-potret tersebut tidak hanya menampilkan keindahan alam pedesaan, tetapi juga menggambarkan ketangguhan, kerja keras, serta keterikatan manusia dengan tanah yang menjadi sumber kehidupannya.
Di sisi lain, Manuel Rodríguez menghadirkan seri Watercolor Infinite Dawn yang mengeksplorasi lanskap sebagai ruang yang terus berubah dan membentuk pengalaman batin manusia. Dengan sapuan cat air yang lembut, ia mengajak pengunjung menikmati panorama yang tenang, reflektif, dan penuh nuansa kontemplatif.
Selain menampilkan karya seni, pameran ini juga diramaikan berbagai kegiatan pendukung seperti forum diskusi publik bersama Manuel Rodríguez serta pemutaran film asal Uruguai. Di bawah kurasi Alam Wisesha dan Karamina Puspitasari, Panorámica tidak hanya memperkenalkan Uruguai sebagai sebuah negara, tetapi juga sebagai pengalaman budaya yang dapat dirasakan dan dimaknai bersama.
Pameran Panorámica berlangsung di Gedung D Galeri Nasional Indonesia dan dapat dikunjungi masyarakat mulai 5 hingga 28 Juni 2026.
Acara pembukaan turut dihadiri sejumlah pejabat Kementerian Kebudayaan, di antaranya Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti; Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra; serta Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Esti Nurjadin. Hadir pula para perwakilan diplomatik dari berbagai negara sahabat.
Menutup sambutannya, Fadli Zon mengajak kedua negara untuk terus memperkuat kerja sama kebudayaan sebagai fondasi penting dalam membangun saling pengertian dan memperluas ruang dialog antarbangsa di tingkat global.





