Pendidikan

Guru Terus Belajar, Murid Siap Hadapi Masa Depan: Kemendikdasmen Perluas Akses Pelatihan PMKKA

RuangVeritas.com – Perkembangan teknologi yang berlangsung pesat membuat guru perlu terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Terlebih, kecerdasan artifisial (AI) kini semakin dekat dengan keseharian murid. Kondisi tersebut mendorong pembelajaran untuk tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga mengembangkan kemampuan bernalar, menyelesaikan masalah, serta menghubungkan pengetahuan dengan berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari.

Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) memperluas kesempatan bagi guru untuk meningkatkan kompetensi melalui Pelatihan Mandiri dan Diklat Bauran Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (PMKKA).

Program tersebut diperkenalkan melalui kegiatan webinar yang melibatkan guru SMA, SMK, dan SLB, kepala sekolah, pengawas, penanggung jawab PMKKA di BBGTK, BGTK, dan KGTK, serta pengelola program dari dinas pendidikan tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Saat membuka webinar, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, menyampaikan bahwa PMKKA merupakan salah satu langkah untuk memperkuat kemampuan guru dalam menghadirkan proses belajar yang mendalam, bermakna, dan selaras dengan perkembangan zaman.

Nunuk menjelaskan bahwa guru diharapkan tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga mampu mengolah pengetahuan tersebut menjadi kegiatan pembelajaran yang nyata dan memberikan makna bagi murid.

Ia berharap kegiatan sosialisasi tidak berhenti sebagai agenda penyampaian informasi, tetapi menjadi awal bagi guru untuk mengenal, mengakses, memahami, serta menerapkan PMKKA di sekolah. Pengetahuan dan praktik baik yang diperoleh juga diharapkan dapat disebarluaskan melalui berbagai forum, seperti komunitas guru pendidikan khusus, kelompok kerja, dan komunitas belajar, sehingga dampaknya dapat dirasakan lebih luas oleh guru maupun satuan pendidikan.

Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Arif Jamali, dalam laporannya mengatakan bahwa Pelatihan Mandiri dan Diklat Bauran dirancang untuk membuka akses pembelajaran yang lebih luas bagi guru, khususnya bagi mereka yang belum memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan secara tatap muka.

Arif menekankan bahwa keberhasilan suatu program sangat dipengaruhi oleh pemahaman para pelaksana. Karena itu, sosialisasi diperlukan agar peserta mengetahui tujuan program, tahapan pelaksanaan, mekanisme pembelajaran, hingga bentuk dukungan yang dapat dimanfaatkan selama mengikuti pelatihan.

Menurut Arif, peningkatan kompetensi guru tidak cukup diukur dari keberhasilan menyelesaikan pelatihan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diwujudkan dalam perubahan praktik pembelajaran di kelas.

Untuk itu, ia mendorong adanya dukungan dari dinas pendidikan, satuan pendidikan, UPT, serta komunitas guru agar peserta dapat mengikuti seluruh proses pelatihan sampai selesai dan menerapkan hasil belajarnya dalam kegiatan pembelajaran.

Penguatan mengenai substansi PMKKA disampaikan Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah bidang STEM dan Kompetensi Guru, Maila Dania Husni Rahiem, dengan membawa pesan “Murid Lebih Paham, Guru Berdaya.”

Maila menjelaskan bahwa Pembelajaran Mendalam tidak sebatas mengganti metode mengajar. Pendekatan tersebut diarahkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang membuat murid memahami materi secara utuh, mengaitkannya dengan kehidupan, serta memanfaatkan pengetahuan untuk berpikir dan menyelesaikan persoalan.

Pembelajaran Mendalam memiliki tiga karakter utama, yakni berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Melalui pendekatan tersebut, proses belajar diharapkan tidak berhenti pada kemampuan mengingat informasi, tetapi mendorong murid memahami makna pembelajaran dan menggunakannya dalam berbagai konteks kehidupan.

Dalam penerapannya, guru memegang peran penting dalam merancang kegiatan belajar yang sesuai dengan kebutuhan murid. Kebiasaan guru untuk terus belajar juga akan meningkatkan kapasitas dan rasa percaya diri dalam menciptakan pembelajaran yang relevan, termasuk dalam memanfaatkan perkembangan teknologi.

Maila menegaskan bahwa penggunaan berbagai teknologi dalam pendidikan pada akhirnya harus diarahkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih baik bagi murid. Karena itu, peningkatan pemahaman murid perlu berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas guru.

Ia juga menjelaskan bahwa pembelajaran Koding dapat membantu murid mengembangkan pola pikir komputasional, logis, sistematis, dan kreatif. Sementara itu, pemanfaatan Kecerdasan Artifisial dapat memperkaya proses pembelajaran, dengan tetap memperhatikan kemampuan berpikir kritis, etika, serta tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

Menurut Maila, semakin mudah teknologi diakses dan digunakan, semakin besar pula kebutuhan terhadap kemampuan berpikir kritis. Dalam kondisi tersebut, guru tetap memiliki peran penting untuk membimbing murid agar dapat menggunakan teknologi secara tepat, bijaksana, dan bertanggung jawab.

Pada sesi berikutnya, Yoki Ariyana dari BBGTK Jawa Barat memaparkan mekanisme pelaksanaan Pelatihan Mandiri dan Diklat Bauran PMKKA.

Melalui Pelatihan Mandiri, seluruh guru mendapatkan kesempatan untuk belajar secara fleksibel melalui Rumah Pendidikan. Peserta terlebih dahulu mempelajari topik dan modul yang tersedia, kemudian mengerjakan latihan untuk menguji pemahaman serta menyusun cerita refleksi berdasarkan pengalaman belajar.

Setelah itu, peserta mengikuti post-test untuk mengetahui tingkat pemahaman terhadap materi yang telah dipelajari. Hasilnya dapat menjadi dasar untuk memperoleh informasi dan rekomendasi mengenai materi yang masih perlu dipelajari atau diperkuat.

Sementara itu, Diklat Bauran diperuntukkan bagi pengajar Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial tahun 2025, termasuk peserta yang telah menyelesaikan Pelatihan Mandiri. Pembelajaran dilakukan melalui kombinasi kegiatan belajar mandiri dan kolaborasi antarpeserta dengan target penguasaan pengetahuan dan keterampilan pada tingkat lanjut hingga mahir.

Yoki menjelaskan bahwa peserta harus mengikuti sejumlah tahapan, mulai dari mengakses program, mempelajari materi, mengikuti berbagai aktivitas pembelajaran, mengerjakan tugas maupun asesmen, hingga memastikan seluruh rangkaian pelatihan telah diselesaikan.

Menurutnya, setiap tahapan perlu dijalani secara utuh agar proses belajar tidak sekadar berhenti pada aktivitas membaca materi, tetapi memberikan pengalaman pembelajaran yang menyeluruh kepada peserta.

Melalui perluasan akses Pelatihan Mandiri dan Diklat Bauran PMKKA, Kemendikdasmen berharap semakin banyak guru SMA, SMK, dan SLB dapat meningkatkan kompetensinya secara berkelanjutan. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selanjutnya diharapkan dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah.

Upaya tersebut menegaskan pentingnya guru untuk terus belajar seiring perkembangan zaman. Dengan kompetensi guru yang semakin kuat, ruang bagi murid untuk mendapatkan pembelajaran yang lebih bermakna, relevan, dan mempersiapkan mereka menghadapi perkembangan masa depan juga semakin terbuka.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button