Teknologi

Menkomdigi Pastikan Pemerintah Dengarkan Aspirasi Publik, Masyarakat Diminta Jaga Ketertiban dan Ruang Digital

Jakarta, RuangVeritas.com – Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa pemerintah tetap membuka ruang dialog bagi masyarakat dalam menyampaikan kritik maupun aspirasi. Ia mengingatkan agar setiap penyampaian pendapat, termasuk melalui aksi demonstrasi, dilakukan secara tertib dengan tetap menjaga keamanan bersama serta suasana ruang digital yang sehat.

Menurut Meutya, kebebasan menyampaikan pendapat merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Aspirasi, kritik, dan masukan dari masyarakat menjadi elemen yang diperlukan agar pemerintah dapat memahami berbagai persoalan yang berkembang di tengah publik.

“Pemerintah menghargai setiap aspirasi, kritik, dan masukan yang disampaikan masyarakat. Kebebasan berpendapat merupakan hak warga negara yang harus dihormati. Namun, penyampaian aspirasi tersebut juga perlu dijaga agar tetap berjalan dalam koridor yang baik,” ujar Meutya.

Ia menjelaskan bahwa aksi yang berlangsung secara damai akan membuat pesan yang ingin disampaikan masyarakat lebih mudah diterima dan tidak kehilangan substansinya. Karena itu, ia meminta agar kegiatan penyampaian pendapat tidak berubah menjadi tindakan yang dapat mengganggu ketertiban umum.

“Kritik merupakan bagian dari demokrasi dan dapat disampaikan secara tegas. Namun, jangan sampai ada pihak yang terpengaruh provokasi hingga melakukan tindakan kekerasan, perusakan, pembakaran, atau hal lain yang dapat membahayakan masyarakat,” jelasnya.

Selain situasi di lapangan, Meutya juga menyoroti pentingnya menjaga ekosistem digital ketika aksi berlangsung. Ia meminta masyarakat lebih berhati-hati dalam menerima maupun menyebarkan informasi, terutama konten yang belum jelas kebenarannya atau berpotensi memicu konflik.

Ia menilai, masyarakat perlu memahami bahwa media sosial memiliki mekanisme algoritma yang dapat memengaruhi apa yang muncul di layar pengguna. Berbagai konten yang tampil berulang kali tidak selalu menunjukkan kondisi sebenarnya secara menyeluruh.

“Informasi yang terlihat di media sosial belum tentu menjadi gambaran lengkap dari sebuah keadaan. Algoritma dapat memperkuat konten berdasarkan kebiasaan dan interaksi pengguna. Karena itu, penting untuk mengecek kebenaran informasi, melihat konteks, dan tidak mudah terbawa emosi,” tuturnya.

Meutya juga mengingatkan agar masyarakat mewaspadai berbagai bentuk penyebaran informasi palsu, mulai dari hoaks, potongan video yang tidak utuh, hingga narasi yang sengaja dibuat untuk menimbulkan perpecahan.

“Ruang digital harus menjadi tempat bertukar informasi yang sehat, bukan sarana memperbesar ketegangan. Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi penyebaran hoaks dan ajakan kekerasan harus dicegah bersama,” kata Meutya.

Ia berharap masyarakat dapat terus menyampaikan aspirasi secara bertanggung jawab sehingga nilai demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan keamanan dan persatuan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button