Berita Umum
Sinyal Alam di Balik Tembok Beton: Kesuburan Tanah Bojongsari yang Tak Terusik Urbanisasi
Depok, RuangVeritas.com – Di tengah pesatnya pembangunan perumahan di Kota Depok, sebuah fenomena alam menarik muncul di Perumahan Bumi Mentari, Bojongsari. Penemuan tanaman Suweg (Amorphophallus paeoniifolius) di lahan pembangunan rumah yang terbengkalai menjadi bukti nyata bahwa ekosistem asli kawasan tersebut masih menyimpan kekuatan biologis yang besar meski telah dikelilingi pemukiman. padat.
Bertahan di Tengah Beton Berbeda dengan narasi viral yang fokus pada “bau bangkai”, kemunculan bunga ini sebenarnya merupakan indikator kesuburan tanah yang masih terjaga. Vika Nisaul Fajri, warga setempat, mencatat bahwa meski area tersebut kini dipenuhi rumah, lingkungan sekitarnya masih memiliki kantong-kantong hijau yang asri dengan tegakan pohon jati serta kebun warga yang menanam cabai, terong, hingga daun salam.
Tanaman Suweg ini ditemukan tumbuh subur di sela-sela pohon pisang pada lahan yang konstruksi bangunannya tidak selesai. Hal ini menunjukkan bahwa umbi tanaman tersebut mampu bertahan di dalam tanah selama bertahun-tahun, menunggu momentum yang tepat untuk muncul kembali ke permukaan.
Alarm Alami Musim Hujan Dari perspektif botani dan tradisi lokal, kemunculan kerabat bunga bangkai dari famili talas-talasan (Araceae) ini bukan sekadar fenomena mistis atau kebetulan. Secara ilmiah, mekarnya bunga ini sering dianggap sebagai pertanda alami akan datangnya musim hujan.
Meskipun mengeluarkan aroma menyengat yang sempat dikira bangkai hewan atau tumpukan sampah, kehadiran tanaman ini menjadi momen langka bagi warga yang sudah tinggal berpuluh-puluh tahun di sana. Berdasarkan pengakuan warga senior, fenomena ini adalah yang pertama kalinya terjadi sejak pemukiman tersebut berdiri, menandakan adanya siklus alam yang kembali aktif.
Konservasi Sederhana oleh Warga Respons masyarakat terhadap “tamu tak diundang” ini menunjukkan bentuk konservasi berbasis komunitas yang unik. Tanpa instruksi formal, pengurus RT setempat berinisiatif memasang pembatas sederhana menggunakan triplek untuk menandai dan melindungi area tumbuh tanaman agar tidak rusak oleh warga yang berdatangan untuk mendokumentasikannya.
Warga memilih untuk membiarkan bunga tersebut layu secara alami. Mereka memahami bahwa meski kelopaknya mulai keriput, umbi yang berada di bawah tanah akan tetap hidup dan berpotensi tumbuh kembali di masa depan, menjaga mata rantai kekayaan hayati di tengah modernitas Bojongsari.





